27 Nov

Cara Atasi Mood yang Kacau Usai Melahirkan

Yang Terbaik untuk si Kecil
Oleh: Woro Kurnianingrum, M.Psi

Memiliki si Kecil setelah sembilan bulan menanti, tentunya membahagiakan. Namun, selain perasaan bahagia, akan ada perasaan lain yang akan membingungkan Moms selama beberapa minggu pertama usai bersalin.

 

Bagi banyak wanita, berada di rumah dengan si Kecil yang baru lahir, adalah seperti pengalaman naik roller coaster. Emosi turun naik dengan cepat. Suatu hari, Moms gembira karena merasakan si Kecil tidur di lengkungan lengan. Di lain waktu, Moms akan sedih karena tidak bisa bepergian karena tak ada yang Moms anggap cukup mampu menjaga Si Kecil di rumah. Lalu, tiba-tiba Moms menangis karena merasa begitu marah sekaligus frustasi dengan situasi.

 

Bila Moms merasakan ini, jangan khawatir. Dunia Moms tidak akan kiamat. "Perubahan suasana hati ini tak perlu terlalu dirisaukan" kata Hilda Hutcherson, M.D., asisten profesor kebidanan dan ginekologi di Columbia University College of Physicians and Surgeons di New York City. "Setelah melahirkan, wanita mengalami perubahan kadar hormon yang dramatis, yang secara drastis pula memengaruhi suasana hati mereka." Kegugupan yang dialami Ibu saat akan melahirkan, tidak seberapa dibandingkan dengan kecemasan ketika ada si Kecil baru di rumah. Perasaan tidak aman sering berlanjut selama beberapa minggu pertama. Selain karena perubahan hormon, ini juga terjadi karena tuntutan fisik seperti menyusui, mengganti popok, menimang dan lain sebagainya. Dalam kondisi seperti ini Moms tidak bisa melakukannya seorang diri. Moms sebaiknya meminta bantuan orang lain untuk untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sehingga bisa meringankan kondisi Moms.

 

Para ahli mengatakan, ibu baru membutuhkan jaringan orang-orang yang dapat diajak berbagi pengalaman dan keprihatinan. "Sangat penting bagi ibu baru untuk berbicara dengan ibu lain yang memiliki anak, bahkan meski usia anak-anak mereka lebih tua," kata Ann Douglas, penulis buku The Mother of All Pregnancy Books (Hungry Minds). Perasaan sedih yang sulit dijelaskan dan lesu, terutama pada minggu-minggu awal pasca melahirkan, adalah hal yang normal. Penyebabnya adalah penurunan kadar estrogen dan progesteron, kata Margaret Howard, Ph.D., seorang psikolog dan direktur klinis gangguan postpartum di Women & Infants Hospital, di Providence.

 

"Pada saat yang sama, ada peningkatan pesat kadar prolaktin. Prolaktin adalah hormon yang mengatur produksi ASI. Sampai kadar hormon-hormon ini seimbang kembali, ibu baru dapat mengalami fluktuasi suasana hati dari waktu ke waktu. Kondisi ini disebut baby blues syndrome dan terutama terjadi pada wanita yang baru pertama kali menjadi ibu." Namun, jika suasana hati Moms yang fluktuatif terus berlangsung dan berubah menjadi kesedihan yang mendalam, keputusasaan, dan rasa tidak berdaya, Moms mungkin menderita depresi postpartum. Jika kondisi ini terus berlanjut, temui dokter kandungan atau bidan untuk mendapat pengarahan lebih lanjut mengenai cara mengatasinya.

 

Tentu saja, tidak semua perasaan pasca melahirkan didominasi oleh perasaan negatif. Banyak Moms merasakan kebahagiaan yang tak terduga dan takjub selama bulan pertama kehadiran si Kecil. Manfaatkan lonjakan energi dan rasa sukacita ini dengan mengamati dan merekam aktivitas dan perkembangan si Kecil Ibu. Dengan menikmati dan mengabadikan emosi positif, Ibu akan bisa menghadirkan kembali kenangan bahagia tersebut, saat perasaan sedih muncul.

 

sumber: www.parents.com/baby/new-parent/motherhood/moody/

 

27 Nov
27 Nov
Yang Terbaik untuk si Kecil

Tips Kompak Mengurus si Kecil

27 Nov