Bayi 0-6 Bulan Bayi Baru Lahir 15 Januari 2019

5 Cara Melindungi Anak Dari Penyebab Alergi di Rumah

Oleh: Mitu Baby

BAGIKAN

Alergi adalah salah satu masalah kesehatan yang sering dialami bayi. Meski umumnya alergi pada bayi tidak berbahaya, tetap lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? Nah, sebelum cari tahu cara mencegahnya, sebaiknya Moms cari tahu dulu apa saja yang bisa memicu alergi di rumah.


Kenali penyebab alergi di rumah
Moms mungkin yakin bahwa rumah adalah tempat teraman buat si Kecil. Meski begitu, rumah yang terlihat bersih mengilap sekali pun diam-diam tetap menjadi sarang bagi banyak alergen (agen pemicu alergi) yang dapat menyebabkan bayi sulit bernapas lega. Apa saja itu?


1. Serbuk atau partikel debu
Dalam gumpalan debu yang biasa Moms lihat di pojokan rumah mungkin terdapat sel-sel kulit mati, sisa makanan, tanah, kotoran tikus, spora jamur, serbuk bunga, dan sampah-sampah lainnya. Semua ini bisa terhirup oleh si Kecil, menyebabkannya jadi sering batuk-batuk dan bersin. 

2. Kecoa dan tungau
Rumah yang bersih pun tetap bisa menjadi sarang persembunyian kecoa dan tungau karena binatang-binatang ini sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan.
Alergi yang disebabkan oleh kecoa adalah penyebab serangan asma serius dan masalah pernapasan lainnya bagi kebanyakan anak.
Sedangkan tungau adalah hewan-hewan kecil tak kasat mata yang suka bersembunyi di seprai dan sarung bantal guling, sela-sela jahitan pinggir kasur, bulu-bulu karpet, gorden, atau bahkan pada koleksi boneka si Kecil.
Sisa bangkai tungaulah yang dapat menempel pada kulit dan menyebabkan gejala alergi atau bahkan asma.

3. Jamur
Rumah yang ventilasinya kurang baik atau sering mengalami kebocoran air di sana-sini rentan ditemukan jamur. Ini karena jamur hidup di lingkungan yang selalu lembap.
Tempat-tempat dalam rumah lainnya yang strategis buat jamur bertumbuh adalah sela-sela tumpukan kardus, kusen jendela, kain karpet dan gorden, dinding dapur, kamar mandi, dan area cuci baju.
Lapisan jamur akan melepaskan serbuk-serbuk spora yang berterbangan di udara, dan bisa terhirup oleh si Kecil sehingga memunculkan masalah pernapasan.

4. Hewan peliharaan
Penyebab alergi si Kecil sebetulnya bukan dari bulu yang masih menempel di badan binatang, tapi bulu dan sel kulit mati yang sudah rontok dan beterbangan di udara.

Tips mencegah alergi bayi muncul di rumah
Ini dia yang harus Moms lakukan agar bayi bisa terus bernapas lega di rumah tanpa terganggu alergi.


1.  Pilih produk yang aman bagi pernapasan bayi
Seperti orang dewasa, kulit bayi juga perlu dirawat. Akan tetapi, Moms harus hati-hati dalam memilih produk perawatan kulit buat si Kecil. Pasalnya, produk perawatan kulit bayi yang tidak tepat bisa saja memicu gejala alergi seperti batuk, hidung berair, dan bersin-bersin. 
Nah, salah satu cara untuk menjaga pernapasan sekaligus kulit bayi adalah dengan menggunakan bedak bayi bentuk cair yang mengandung bahan-bahan alami seperti pro-vitamin B5 dan ekstrak chamomile. Moms bisa mencoba bedak cair Mitu Baby Liquid Powder yang teksturnya cair mirip losion.
Bedak cair Mitu Baby Liquid Powder aman buat pernapasannya karena tidak menghasilkan serbuk bedak yang dapat terhirup. Selain itu, bedak cair Mitu Baby Liquid Powder juga wanginya lembut dan cocok untuk bayi, tidak menyengat dan mengganggu pernapasan si Kecil. 

2. Bersihkan rumah
Alergen di rumah umumnya berukuran amat kecil sehingga mudah masuk ke paru-paru bayi. Itu kenapa rajin membersihkan rumah menjadi salah satu solusi terbaik yang bisa Moms lakukan agar si Kecil senantiasa bernapas lega.
Cuci dan jemur semua karpet, keset rumah, gorden, taplak, sarung bantal dan guling, hingga boneka minimal seminggu sekali. Pel lantai dan lap jendela beberapa kali sehari agar juga terbebas dari debu pemicu alergi. 
Jika Moms punya hewan peliharaan di rumah, jaga agar tidak bermain di dalam kamar. Jangan lupa untuk juga rutin bersihkan kandangnya.

3. Jauhkan si Kecil dari asap rokok
Berhenti merokok adalah solusi terbaik untuk mencegah munculnya gejala alergi dan masalah pernapasan pada bayi.
Bayi yang jadi perokok pasif lebih berisiko mengidap alergi, asma berat, dan penyakit radang paru seperti bronkitis atau pneumonia di kemudian hari. Risiko ini ada karena sistem imun bayi belum terbentuk sempurna sehingga mereka lebih rentan sakit.