Bayi 7-12 Bulan Perlindungan Kuman 26 September 2018

Alergi Makanan Pada si Kecil

Oleh: Oleh dr. Diyah Eka SpGK

BAGIKAN

Jika si Kecil memiliki alergi makanan, system kekebalan tubuhnya akan bereaksi terhadap makanan tertentu seolah-olah makanan itu berbahaya. Saat mengonsumsi makanan tersebut, tubuhnya akan melepaskan antibodi dan zat lain yang menyebabkan munculnya reaksi alergi. Diperkirakan ada delapan persen anak-anak menderita alergi makanan.

Reaksi alergi mungkin terjadi dalam hitungan detik hingga beberapa jam sejak si Kecil memakan makanan yang menjadi pemicu. Kadang-kadang gejala muncul pada kulit seperti gatal-gatal, bercak merah, eksim kronis, atau pembengkakan. Gejala alergi makanan mungkin juga berupa gangguan gastrointestinal seperti muntah, sakit perut atau diare.

Sebagian besar anak-anak dengan alergi makanan, memiliki reaksi atau gejala alergi ringan. Jika si Kecil tergolong memiliki alergi berat, biasanya gejala muncul dalam waktu yang sangat singkat. Gejala alergi berat antara lain adalah sesak napas, pembengkakan pada lidah dan mulut dan mengi (bunyi napas sesak). Reaksi yang mengancam jiwa ini disebut anafilaksis.

Makanan pemicu alergi yang paling umum pada anak-anak adalah telur, susu, kacang, gandum, kedelai, kacang pohon (seperti kenari, kacang Brasil, dan kacang mete), seafood seperti: ikan (seperti tuna, salmon, dan cod), dan kerang (seperti lobster, udang , dan kepiting).

Jika Moms atau pasangan memiliki riwayat keluarga alergi makanan, si Kecil lebih mungkin untuk memiliki alergi juga. Apa yang bisa Moms lakukan?

Pada usia enam bulan, Moms dapat mulai memberi makanan padat pada si Kecil. Dokter mengatakan, tidak perlu menunda makanan yang umumnya berpotensi menyebabkan alergi seperti kacang, telur, dan susu, meski ada riwayat alergi makanan dalam keluarga.  Beberapa penelitian menunjukkan, menunda pemberian makanan ini dapat meningkatkan risiko si Kecil mengembangkan alergi makanan.

Ketika member makan makanan padat, tunggu setidaknya tiga hingga empat hari sebelum memperkenalkan makanan baru lainnya. Jika memang si Kecil memiliki alergi, reaksi akan muncul dalam waktu tiga hari tersebut. Mulailah dengan memberikan makanan utuh atau makanan berbahan dasar tunggal untuk memermudah investigasi gejala yang mungkin timbul.

Jika Moms menduga anak alergi terhadap makanan tertentu, tanyakan kepada dokter apakah dia bisa memberikan tes alergi untuk menegakkan diagnosa. Ada berbagai macam tes alergi, mulai dari tes kulit hingga tes darah. Sebelum melakukan tes alergi, dipastikan anak telah bebas obat alergi 1 minggu sebelumnya.

Jika si Kecil didiagnosis dengan alergi makanan, Moms harus belajar mengenai makanan yang wajib dihindari, cara membaca label, dan bagaimana mengenali tanda-tanda awal reaksi alergi.

Bekerjasamalah dengan dokter untuk mengetahui tindakan apa yang perlu dilakukan jika suatu saat si Kecil menunjukkan reaksi alergi. Pastikan Moms memiliki epinephrine (obat untuk menghentikan anafilaksis) dan tahu bagaimana menggunakannya.

Juga pastikan bahwa setiap orang yang bertanggungjawab mengasuh si Kecil, tahu bahwa si Kecil memiliki alergi makanan tertentu.  Juga pastikan mereka tahu persisapan yang harus dilakukan jika reaksi alergi muncul.